NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH – Bupati Kebumen Lilis Nuryani didampingi mantan Bupati Kebumen ke-31, Ir Mohammad Yahya Fuad SE menghadiri tradisi tahunan “Guyuban” atau merdi bumi yang digelar pada Minggu (24/05/2026) di Lapangan Desa Argosari Kecamatan Ayah Kebumen.
Bupati Lilis Nuryani didampingi Ir Mohammad Yahya Fuad SE ikut menikmati menu makanan dari tenong yang menjadi simbol kerukunan, di mana warga saling bertukar makanan lalu membawanya pulang.
Lilis Nuryani memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kelestarian tradisi tersebut, dalam sambutannya, Bupati Lilis menyoroti potensi Desa Argosari yang dikelilingi hutan jati milik Perhutani serta banyaknya pohon kelapa yang mengindikasikan besarnya potensi pengrajin gula kelapa dan penderes di wilayah tersebut.

Selain itu Lilis juga menyampaikan terkait infrastruktur, ia mengakui adanya kerusakan jalan di sepanjang jalur menuju lokasi dan meminta masyarakat untuk bersabar.
“Pemerintah Kabupaten Kebumen saat ini sedang memprioritaskan perbaikan jalan. Namun, kami mohon masyarakat bersabar karena ada 460 desa dan kelurahan yang harus diakomodir. Ditambah lagi, APBD kita mengalami pemotongan dari pusat sebesar Rp244 miliar yang juga berdampak hingga ke tingkat pemdes,” ungkap Bupati Lilis.
Meski menghadapi tantangan anggaran, Bupati menegaskan Pemkab Kebumen akan tetap berhemat demi memprioritaskan pembangunan jalan.
“Pembangunan daerah tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya sinergi dan dukungan dari semua pihak termasuk dari desa demi kemajuan Kebumen. Saya ucapkan atas terselenggaranya acara ini semoga budaya semacam ini akan terus lestari,” pungkasnya.
Ketua Panitia Kegiatan, Paridin, mengatakan tradisi Guyuban ini memiliki nilai sejarah yang kuat bagi masyarakat setempat, erawal dari penggabungan dua desa di masa lampau, yaitu Desa Linggarsari dan Desa Gunung Tengah, kepala desa saat itu menyatukan keduanya menjadi Desa Argosari.
“Nama “Argo” diambil dari Gunung Tengah yang berarti gunung, sementara “Sari” diambil dari Linggarsari. Saat ini, kedua nama desa tempo dulu tersebut diabadikan menjadi nama dusun. Penggabungan ini membawa harapan agar seluruh warga selalu bersatu dan guyub,” terangnya.
Paridin juga menjelaskan bahwa tasyakuran ini rutin dilaksanakan setiap setahun sekali di akhir bulan Zulhijah atau menjelang bulan Sura (Muharam).
“Kami sengaja melaksanakannya sebelum Lebaran Haji atau bulan Sura agar tidak berbenturan dengan banyaknya hajatan warga. Melalui forum rapat, disepakati bahwa adat istiadat Guyuban atau Merdi Bumi ini wajib diuri-uri (dilestarikan), salah satunya dengan menggelar pertunjukan wayang kulit yang sudah menjadi agenda mutlak,” ujar Paridin.
Menurut Paridin, biaya operasional kegiatan mencapai Rp45 juta murni berasal dari swadaya masyarakat. “Kami pihak panitia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Desa dan seluruh warga yang telah berpartisipasi menjaga tradisi ini tetap eksis tanpa halangan,” ucapnya.
Kepala Desa Argosari, Jaisman Agus Wahyudi, menambahkan bahwa esensi dari acara ini adalah wujud syukur kepada Allah SWT, ia berharap kegiatan ini dapat mempererat keakraban antarwarga.
“Tentu kami berharap warga semakin rukun demi mewujudkan desa yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (desa yang baik, aman, dan penuh ampunan), serta mendoakan agar seluruh warga diberikan kesehatan dan umur panjang,” ucapnya.(nw)
Reporter : Suho
