NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU — Hujan yang turun hampir tanpa jeda dalam beberapa pekan terakhir membawa dampak bahan pokok hingga ke dapur masyarakat. Di Pasar Bauntung Banjarbaru, cabai rawit kini menjadi salah satu komoditas yang paling terasa kena dampaknya.
Pantauan Selasa (20/01/2026) menunjukkan harga cabai rawit melonjak ke angka Rp100.000 per kilogram. Kenaikan ini mencapai Rp30.000 dari harga normal sebelumnya.
Pedagang cabai yang sudah bertahun-tahun berjualan di Pasar Bauntung, Rijal menyebut, kondisi cuaca menjadi penyebab utama lonjakan harga. Hujan deras dan banjir di sejumlah daerah sentra produksi membuat hasil panen jauh berkurang.
“Tanaman cabai itu sensitif. Kalau hujan terus atau kebanjiran, banyak yang rusak sebelum panen,” ungkapnya.
Ia mengatakan, pasokan cabai yang masuk ke pasar saat ini tidak sebanyak hari-hari biasa.
“Sementara permintaan tetap ada, terutama dari warung makanan dan rumah tangga,” tuturnya.
Hal serupa diungkapkan pedagang cabai lainnya. Aman mengatakan, sebagian besar cabai yang dijualnya berasal dari Rantau dan Kandangan, daerah yang belakangan terdampak hujan lebat dan banjir.
“Barang dari sana jadi susah masuk, bukan karena tidak ada yang mau kirim, tapi memang panennya berkurang,” ujarnya.
Kondisi ini turut mempengaruhi pola belanja pembeli. Pemilik warung makan di Banjarbaru, Rahman mengaku harus menyesuaikan penggunaan cabai agar biaya produksi tidak melonjak.
“Biasanya beli banyak buat stok sambal. Sekarang dikurangi, terus dicampur cabai lain,” katanya.(nw)
