NEWSWAY.CO.ID, SAMARINDA – Masyarakat Kalimantan Timur dari berbagai organisasi maupun sipil melakukan demontrasi menuntut Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud karena beberapa kebijakan yang dianggap tidak rasional, pada Selasa (21/4/2026) malam
Dilansir dari Kompas.com demonstrasi tersebut membawa tiga tuntutan utama, yaitu evaluasi kebijakan Pemprov Kaltim, penghentian praktik KKN, serta desakan agar DPRD memaksimalkan fungsi pengawasan.
Namun, ternyata tiga tuntutan itu dianggap hal yang tidak begitu krusial, justru isu yang paling memicu kemarahan massa adalah terkait gaya hidup pejabat di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Beberapa poin anggaran yang menjadi sorotan tajam meliputi, Rumah Jabatan dengan anggaran renovasi senilai Rp 25 miliar, termasuk pengadaan akuarium laut dan alat fitness. Termasuk pengadaan mobil mewah jenis Range Rover senilai Rp 8,5 miliar.
Sikap bungkam dari pihak pemerintah provinsi dinilai memperkeruh situasi dan menyisakan kekecewaan mendalam bagi massa aksi. Komunikasi yang buntu ini diprediksi akan terus memicu tanda tanya publik terkait respons nyata pemerintah terhadap tuntutan yang disampaikan.
Satu hal yang menjadi sorotan ketika Gubernur enggan menemui massa aksi dan wartawan, lalu memilih bungkam dan meninggalkan Kantor Gubernur, ternyata sikap diam itu dilakukan Rudy Mas’ud setelah unjuk rasa yang berlangsung sejak siang berakhir ricuh.
Rudy Mas’ud keluar dari kantor sekitar pukul 21.10 WITA, atau sekitar satu jam setelah massa berhasil dipukul mundur oleh aparat. Dengan pengawalan ketat, ia berjalan cepat menuju rumah jabatan yang berjarak sekitar 100 meter tanpa memberikan pernyataan sedikit pun kepada awak media.
Sejumlah wartawan yang mencoba meminta keterangan terkait tuntutan massa maupun kericuhan yang pecah tidak mendapat respons. Rudy hanya berlalu dan langsung masuk ke kediaman dinasnya.
Kapolda Kalimantan Timur, Endar Priantoro, mengonfirmasi bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur sebenarnya berada di dalam gedung saat aksi berlangsung, namun, pihak pemerintah provinsi memutuskan untuk tidak menerima massa yang meminta audiensi langsung.
“Gubernur ada tadi di kantor, tapi memang tidak menerima mereka untuk audiensi,” ujar Endar di lokasi kejadian.
Ketegangan mulai memuncak sekitar pukul 18.00 WITA, aksi saling lempar antara massa dan petugas tak terhindarkan, hingga akhirnya polisi mengerahkan water cannon untuk membubarkan kerumunan pada pukul 20.03 WITA.
Dari kejadian itu, aparat kepolisian mengamankan sejumlah orang usai demo rusuh di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Jalan Gajah Mada, Samarinda, penindakan dilakukan setelah situasi di lapangan memanas dan dinilai berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Irjen Pol Endar Priantoro, membenarkan adanya pengamanan terhadap beberapa orang peserta aksi, namun, ia menegaskan proses yang dilakukan masih dalam tahap pemeriksaan.
“Ada beberapa yang diamankan, tapi masih dalam tahap pemeriksaan. Petugas masih melakukan pemeriksaan tingkat kesalahannya,” ujar Kapolda.
Aksi unjuk rasa sendiri berlangsung sejak siang hari dan sempat berjalan tertib, massa menyampaikan aspirasi di Gedung DPRD Kaltim sebelum bergerak ke Kantor Gubernur.
Namun, situasi berubah menjelang malam saat sebagian massa bertahan di lokasi dan terjadi ketegangan dengan aparat, Kapolda Kaltim memastikan, meski terjadi penindakan, situasi secara umum masih terkendali dan tidak menimbulkan korban.(nw)
