NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Karang Taruna Kabupaten Banjar menggelar acara nonton bersama film dokumenter Pesta Babi “Kolonialisme di Zaman Kita” di kafe Tujuh Persen Banjarbaru, Kamis (14/05/2026). Kegiatan tersebut mendapat antusias tinggi dari masyarakat, bahkan jumlah penonton melampaui ekspektasi panitia.
Sekretaris Karang Taruna Kabupaten Banjar, Usamah Yandi mengatakan, awalnya panitia hanya memperkirakan sekitar 30 peserta yang hadir. Namun setelah poster kegiatan dipublikasikan di media sosial, jumlah peserta membeludak hingga lebih dari 100 orang.
“Kami sebenarnya melihat regulasi minimal 10 orang sudah bisa melakukan pemutaran. Awalnya ekspektasi kami hanya sekitar 30 orang dari internal saja. Tapi setelah diposting, ternyata antusias masyarakat tinggi sekali,” ujarnya.

Ia menyebut, selama penayangan berlangsung masih banyak warga datang tanpa melakukan registrasi. Bahkan konsumsi yang disiapkan panitia mencapai sekitar 150 gelas kopi.
Usamah mengungkapkan, kegiatan tersebut digelar untuk membuka wawasan masyarakat Kalimantan Selatan terkait kondisi sosial dan kerusakan alam yang terjadi di Papua, khususnya dampak eksploitasi kawasan hutan terhadap masyarakat adat.
“Supaya kita di Kalimantan Selatan bisa tahu dan merasakan, setidaknya bisa bersimpati. Film ini banyak berbicara tentang budaya, adat dan bagaimana pentingnya hutan bagi orang asli Papua,” katanya.
Ia juga menilai berbagai narasi negatif terhadap film tersebut muncul karena masih banyak masyarakat yang belum menontonnya secara langsung.
“Kalau sudah menonton, pasti bisa memahami tujuan dan makna dari film ini,” ucapnya.
Terkait adanya pelarangan pemutaran film dokumenter tersebut di sejumlah daerah, Usamah mengatakan pihaknya tetap menghormati berbagai pandangan yang ada. Namun ia menegaskan masyarakat juga memiliki hak untuk menyaksikan dan menilai isi film secara langsung.
“Kami sebenarnya tidak berekspektasi kegiatan ini akan dibubarkan, karena kami percaya aparat di Kalimantan Selatan cukup kooperatif,” ujarnya.
Salah satu penonton asal Wamena Papua, Toni, mengaku prihatin setelah menyaksikan film tersebut. Ia menilai dokumenter itu menggambarkan kondisi yang dialami sebagian masyarakat Papua saat ini.
“Film ini membuat kita lebih dekat melihat bagaimana kondisi masyarakat Papua. Ini baru satu wilayah saja, belum seluruh Papua,” katanya.
Toni mengatakan, film tersebut juga dapat menjadi sudut pandang baru bagi masyarakat Indonesia mengenai konflik dan persoalan yang terjadi di Papua.
“Yang dikorbankan itu tanah adat, nyawa manusia, bahkan hutan yang dampaknya besar bagi dunia,” tuturnya.
Secara singkat, “Pesta Babi” merupakan film dokumenter disutradarai oleh Dandhy D Laksono bersama Cypri Dale. Film ini menceritakan tentang kondisi masyarakat adat di Provinsi Papua Selatan yang tengah berhadapan dengan Proyek Strategis Nasional yang dimaksudkan untuk ketahanan pangan dan energi. Proyek tersebut melakukan pembukaan hutan seluas 2,5 juta hektare di Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, dan Kabupaten Mappi. Film ini merupakan hasil kolaborasi antara Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia. (nw)
