Kepala BPAM Bajar Bakula, Bantah Naikan Tekanan yang Akibatkan Kebocoran Pipa Tansmisi

14 Oktober 2026
Kondisi Pipa tansmisi milik BPAM Banjarbakula yang rusak di daerah Karang Intan Kabupaten Banjar. (Foto : newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Kepala Balai Pengelola Air Minum (BPAM) Banjarbakula, Siddiq Wahyu Pamungkas membantah isu di masyarakat bahwa kebocoran pipa transmisi milik Balai Pengelola Air Minum (BPAM) Banjarbakula, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang bocor di kawasan Karang Intan dipicu adanya penambahan pelanggan dari Banjarmasin sehingga tekanan air sengaja dibesarkan menjadi 5,6 bar dari yang seharusnya 3,6 bar.

“Tidak ada Pak, itu memang ada beberapa permintaan dari pelanggan untuk menambah tekanan dan kami memang tidak berani. Tekanan yang ada saat ini saja dengan kondisi yang sama kita bocor apalagi jika kami memaksakan menambah tekanan,” tegasnya.

Ia mengatakan secara tegas bahwa tekanan normal tetap dijaga di 3,6 bar, bukan 5,6 bar seperti isu yang berkembang.

“Enggak ada pak karena kami selalu memantau tetap 3,6 itu,” bantahnya.

Sementara itu, perbaikan pipa transmisi sudah memasuki tahap akhir dan progres di lapangan sudah sampai tahap penyambungan pipa dan akan segera dilakukan running atau pengaliran uji coba hingga kecepatan tiga bar.

“Progres di lapangan alhamdulillah telah sampai penyambungan pipa. Insya Allah pada sore ini atau malam hari(kemarin-red) paling lambat tuh sudah dilakukan running sebagian dulu,” ujarnya kepada sejumlah wartawan, Selasa (13/10/2026).

Kepala Balai Pengelola Air Minum (BPAM) Banjarbakula, Siddiq Wahyu Pamungkas didampingi stafnya saat memberikan keterangan. (Foto ;newsway.co.id)

Ia menjelaskan, karena pipa baru diperbaiki, kenaikan tekanan air tidak bisa langsung full dan harus dilakukan secara bertahap.

“Karena pipa ini kan baru-baru diperbaiki otomatis kita menaikkan ke tekanan harus bertahap baru bisa di-running full nanti normal kembali seperti sedia kala,” katanya.

Jika running pertama berhasil, wilayah Banjarbaru dan Martapura akan menjadi yang pertama kembali teraliri.

“Berdasarkan dari pengalaman kalau sebagian itu insya Allah Banjarbaru dengan Martapura sudah bisa ter-cover,” ungkapnya.

Terkait kendala di lapangan pada saat perbaikan, Wahyu menyebut bukan masalah teknis pipa, melainkan faktor non-teknis.

“Kendalanya itu kemarin itu nonteknis, jadi ada trouble memang alat ekskavator di lapangan itu tidak mau hidup tapi diganti unit baru alhamdulillah bisa lancar,” jelasnya.

Kebocoran pipa ini bukan yang pertama. Meski di tahun 2025 aman tanpa kebocoran, tahun-tahun sebelumnya bahkan bisa terjadi 2 sampai 3 kali dalam setahun.

“Tahun 2025 aman. Tahun sebelumnya ada beberapa kali bahkan ada sampai satu tahun itu ada dua sampai tiga kali. Tapi 2026 ini terjadi lagi dan titiknya tepat di tengah-tengah jadi kiri kanan sudah, tengah yang sekarang ini,” ujarnya.

Menurutnya kebocoran ini berdampak besar pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) perusahaan.

“Berkaca dari kejadian 2024 itu, satu minggu sampai dua minggu bisa kehilangan estimasi PAD sekitar 25 sampai 30 persen dari yang biasanya kami dapatkan. Nilainya sekitar 1 sampai 1,5 miliar. Untuk per tahun sekitar 30 miliar,” pungkasnya.(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog