Populasi Kerbau di Kabupaten Banjar Menurun, Tersisa 560 Ekor pada Triwulan IV 2025

26 Februari 2026
Kepala Bidang Keswan Kesmavet Dinas Pertanian Kabupaten Banjar drh Lulu Vila Vardi didampingi Kasi Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh. Asep Yusup Nugraha Siliwandi. (Foto : Muhammad Ervan Ariya Ramadani/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Selain sapi dan kambing, masyarakat Kabupaten Banjar juga masih memelihara kerbau secara tradisional. Namun, jumlahnya kini tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan Kesmavet) Dinas Pertanian Kabupaten Banjar, drh. Lulu Vila Vardi mengatakan, sentra ternak kerbau di daerah ini terdapat di dua wilayah utama, yakni Kecamatan Cintapuri Darussalam dan Kecamatan Aranio.

“Secara tradisional, Kabupaten Banjar memang memiliki kerbau, sama seperti di Hulu Sungai Utara. Kita ada dua lokasi sentra, pertama di Cintapuri Darussalam dan kedua di Aranio,” ujarnya saat ditemui, Kamis (26/02/2026).

Ia menjelaskan, terdapat perbedaan karakteristik kerbau di kedua wilayah tersebut. Di Aranio, jenis yang dipelihara lebih menyerupai kerbau sungai atau kerbau danau. Sementara di Cintapuri, mayoritas merupakan kerbau rawa.

~ Advertisements ~

“Kalau di Aranio itu lebih seperti kerbau sungai atau danau. Sedangkan di Cintapuri itu kerbau rawa,” jelasnya.

Namun, populasi kerbau saat ini disebut mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, ada sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.

“Dari segi populasi memang sekarang menurun dibandingkan sebelumnya. Salah satu penyebabnya karena sistem reproduksi kerbau itu lebih lambat dibanding sapi,” katanya.

Ia menerangkan, kerbau umumnya melahirkan dua hingga tiga tahun sekali. Berbeda dengan sapi yang dalam kondisi normal dapat beranak setiap satu hingga dua tahun sekali.

“Jadi pertambahan populasinya memang lebih lambat. Itu salah satu faktor utama,” tuturnya.

Selain faktor reproduksi, perubahan daya dukung lingkungan juga memengaruhi. Di wilayah Cintapuri, misalnya, lahan rawa sebagai habitat alami kerbau mulai berkurang akibat aktivitas usaha lain. Sementara di Aranio, sebagian peternak beralih ke sapi atau ternak lainnya.

“Perubahan lingkungan dan peralihan usaha ternak juga berdampak pada penurunan populasi kerbau,” ujarnya.

Terkait pasar, drh. Lulu menjelaskan bahwa kerbau di Kabupaten Banjar berfungsi sebagai pelengkap kebutuhan daging sapi.

“Kerbau ini sebenarnya pelengkap saja dari sapi. Kalau stok sapi habis dan ada kerbau yang dijual, biasanya pedagang memotong kerbau,” jelasnya.

Ia juga menyebut harga daging kerbau di pasaran relatif setara dengan daging sapi. “Setahu saya, di pasar harganya kurang lebih sama dengan daging sapi,” pungkasnya.

Berdasarkan data Triwulan IV Tahun 2025 yang disampaikan Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh. Asep Yusup Nugraha Siliwandi, total populasi kerbau di Kabupaten Banjar tercatat sebanyak 560 ekor.

“Rinciannya, Kecamatan Cintapuri Darussalam sebanyak 416 ekor, Aranio 111 ekor, dan Sungai Pinang 33 ekor,” ucapnya.(nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog