NEWSWAY.CO.ID, MARTAPURA – Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar membuka Aula Dinas Pendidikan sebagai lokasi pengungsian bagi warga terdampak banjir yang melanda sejumlah wilayah. Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap meningkatnya kebutuhan tempat aman bagi warga saat debit air naik dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Wahyu Efandi mengatakan, pengungsian mulai dimanfaatkan sejak awal pekan ini, terutama saat kondisi banjir sempat meningkat menjelang akhir pekan lalu.
“Awalnya cukup mendesak, terutama saat air mulai naik. Beberapa pembakal langsung berkoordinasi, sehingga aula ini kami siapkan untuk menampung warga yang harus mengungsi,” ucapnya, Jumat (2/01/2026).
Wahyu mengungkapkan, hingga data terakhir tercatat sebanyak 33 kepala keluarga dengan total sekitar 120 jiwa masih bertahan di pengungsian Aula Dinas Pendidikan. Sebagian pengungsi lainnya sudah kembali ke rumah masing-masing seiring fluktuasi ketinggian air.

Untuk fasilitas, Dinas Pendidikan menyediakan tempat pengungsian, sementara kebutuhan konsumsi dan logistik dikoordinasikan bersama BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Banjar. Selain itu, bantuan makanan juga datang dari berbagai pihak secara swadaya.
“Kalau untuk tempat kami siapkan. Untuk makan, kami bekerja sama dengan BPBD dan Dinas Sosial. Ada juga bantuan dari komunitas dan relawan yang mengantar langsung ke sini,” jelasnya.
Terkait durasi pengungsian, Wahyu menyebut belum dapat memastikan hingga kapan aula akan difungsikan sebagai tempat pengungsian. Hal itu bergantung pada kondisi cuaca dan surutnya banjir di wilayah terdampak.
“Kami masih melihat situasi. Selama masih diperlukan dan warga belum bisa kembali ke rumah, aula ini akan tetap kami siapkan. Koordinasi terus kami lakukan dengan BPBD dan Dinas Sosial,” katanya.
Munawarah, salah seorang warga yang mengungsi di Aula Dinas Pendidikan, mengaku sudah berada di lokasi tersebut sejak Senin lalu setelah sebelumnya sempat bertahan di pos kesehatan.
“Di rumah airnya sudah sepinggang, jadi saya pindah ke sini. Di sini alhamdulillah aman,” tuturnya.
Ia mengatakan, kebutuhan makan selama di pengungsian terpenuhi dengan baik. Namun, banjir berdampak pada aktivitas ekonomi keluarganya karena tidak dapat bekerja sementara waktu.
“Pelayanannya bagus, makan terjamin. Tapi pekerjaan jadi terhenti, sudah sekitar seminggu ini tidak ada pemasukan,” ungkapnya.
Munawarah berharap kondisi banjir segera surut agar warga bisa kembali ke rumah dan beraktivitas normal.
“Mudah-mudahan cepat kering dan tidak banjir lagi,” pungkasnya.(nw)
