Bakesbangpol Banyumas Dorong Juru Kunci Makam Jadi Penggerak Literasi Sejarah dan Pendidikan Politik Beretika

23 Oktober 2026
Perkuat Literasi Sejarah, Juru Kunci Makam di Banyumas Bentuk Paguyuban Juru Kunci dan Situs Bersejarah (Foto: Istimewa/Bakesbangpol Banyumas/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH  – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Banyumas menyelenggarakan kegiatan sosialisasi pendidikan politik kepada para juru kunci makam dan pengelola situs bersejarah di Kabupaten Banyumas, Kamis (22/10/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat peran juru kunci dalam menanamkan nilai-nilai moral, menjaga kelestarian sejarah, serta membangun kesadaran politik masyarakat yang sehat dan bertanggung jawab.

Kepala Bakesbangpol Kabupaten Banyumas, Eko Heru Surono, S.Sos., menegaskan bahwa perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh merusak hubungan persaudaraan dan persatuan di tengah masyarakat.

“Beda pilihan politik adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi persaudaraan dan persatuan harus tetap kita jaga. Para juru kunci makam memiliki peran penting dalam merawat warisan budaya sekaligus menjadi teladan bagi masyarakat untuk menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, dan menggunakan hak politik secara bertanggung jawab,” tegasnya.

Menurutnya, pendidikan politik tidak hanya berkaitan dengan pemilu dan penggunaan hak suara, tetapi juga menyangkut pembentukan sikap demokratis, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan, serta tanggung jawab setiap warga negara dalam menjaga kondusivitas wilayah.

Dalam konteks ini, juru kunci makam memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Melalui pendekatan sosial dan kearifan lokal, para juru kunci diharapkan dapat turut menyampaikan pesan-pesan kebangsaan, memperkuat nilai-nilai Pancasila, serta mengajak masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, ujaran kebencian, maupun politik uang,”ucapnya.

Sementara Ketua Bawaslu Kabupaten Banyumas, Imam Arif, menyampaikan bahwa juru kunci makam memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap para peziarah.

Pengaruh tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual dan kebatinan, tetapi juga berpotensi membentuk cara pandang, keyakinan, serta sikap seseorang dalam menjalani kehidupan, termasuk bagi mereka yang memiliki keinginan menduduki jabatan publik.

Menurutnya, tidak sedikit peziarah yang datang dengan harapan memperoleh ketenangan batin dan kemantapan diri, termasuk mereka yang tengah mempersiapkan diri untuk menjadi kepala desa, anggota legislatif, maupun pejabat daerah.

“Kami berharap para juru kunci tidak hanya berperan sebagai perantara dalam kegiatan ziarah, tetapi juga mampu memberikan wejangan yang mengandung pesan moral positif, membangun karakter, dan mendorong perilaku yang bertanggung jawab,”katanya.

Ia juga mengatakan, salah satu nilai yang dapat disampaikan kepada para peziarah adalah keteladanan tokoh-tokoh sejarah Banyumas, seperti Mbah Singa Dipa, yang dalam kisah sejarah lokal dikenal memiliki peran membantu perjuangan Pangeran Diponegoro dengan semangat pengabdian dan pengorbanan tanpa mengharapkan pamrih.

Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa setiap orang, terlebih mereka yang bercita-cita menjadi pemimpin, harus mengedepankan integritas, kejujuran, keberanian membela kebenaran, serta pengabdian kepada masyarakat. Jabatan hendaknya dipandang sebagai amanah untuk melayani, bukan semata-mata sebagai sarana memperoleh kekuasaan atau kepentingan pribadi.

Di sisi lain, Ricky Hendi dari Terasi Mas (Tempat Ziarah dan Situs Banyumas) menekankan pentingnya penguatan literasi sejarah melalui pendokumentasian informasi di setiap situs dan makam bersejarah.

Dokumentasi tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk papan informasi, narasi sejarah tertulis, maupun media digital yang menjelaskan latar belakang sejarah, identitas tokoh, dan nilai-nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya.

Menurutnya, keberadaan informasi sejarah yang terdokumentasi dengan baik sangat penting agar masyarakat dan generasi muda dapat memahami warisan sejarah secara benar. Langkah ini juga menjadi upaya mencegah pemutarbalikan atau perubahan narasi sejarah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Penguatan literasi sejarah diharapkan mampu menjadikan situs dan makam bersejarah bukan sekadar tempat ziarah, tetapi juga ruang edukasi kebangsaan, pembelajaran karakter, serta pelestarian kearifan lokal Banyumas. Dengan demikian, nilai perjuangan para tokoh terdahulu dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, para juru kunci yang hadir menyepakati pembentukan paguyuban juru kunci makam dan situs bersejarah di Kabupaten Banyumas. Paguyuban ini diharapkan menjadi wadah komunikasi, koordinasi, dan kerja sama dalam menjaga kelestarian situs, memperkuat dokumentasi sejarah, serta menyebarluaskan nilai-nilai positif kepada masyarakat.

Dalam kesepakatan tersebut muncul dua kandidat sebagai calon ketua paguyuban, Bambang Edi Sunarto dari Desa Binangun, Kecamatan Banyumas, selaku Ketua Paguyuban Sedulur Banyumas, dan Ki Suho dari Sanggar Kamulyan Sinduredja, Desa Karanganyar, Kecamatan Jatilawang, yang dipercaya menjadi ketua paguyuban.

Melalui kegiatan ini, Bakesbangpol Kabupaten Banyumas berharap juru kunci makam dan pengelola situs bersejarah dapat mengambil peran lebih luas sebagai penjaga warisan sejarah, penyampai nilai moral, serta mitra strategis dalam membangun kesadaran kebangsaan dan pendidikan politik yang beretika.(nw)Reporter

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog