NEWSWAY.CO.ID, BANJARMASIN – Pelaksanaan proyek perbaikan jalan nasional di wilayah Tanah Bumbu hingga Kotabaru mendapat sorotan. Salah satu kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah keterbatasan pasokan aspal panas, ditambah jarak distribusi material yang cukup jauh.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.5 BPJN Kalimantan Selatan, Dienes Pramudya Wardani, mengungkapkan bahwa pekerjaan preservasi ruas Mantewe–Serongga sempat terhambat karena harus menunggu pengiriman aspal dari Banjarmasin.
“Penutupan lubang masih menunggu suplai aspal panas. Saat ini memang terjadi keterbatasan material,” ujarnya, Jumat (17/04/2026).

Ia menjelaskan, distribusi aspal ke lokasi proyek membutuhkan waktu tempuh hingga empat sampai lima jam. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas material jika tidak ditangani dengan baik.
Meski demikian, pihak pelaksana proyek disebut telah melakukan langkah antisipasi, seperti menutup muatan dengan terpal serta mengatur suhu saat penghamparan dan pemadatan agar tetap sesuai standar teknis.
Terkait keluhan masyarakat soal tambalan jalan yang dinilai tidak rata, Dienes menegaskan bahwa pekerjaan yang terlihat saat ini masih tahap awal.
“Lapisan yang ada sekarang merupakan lapisan pondasi atas (LPA) sebagai penanganan sementara. Nantinya akan dilapisi kembali dengan aspal panas,” jelasnya.
Ia juga menanggapi isu minimnya rambu dan tidak adanya papan proyek. Menurutnya, rambu peringatan telah dipasang di sejumlah titik, meski diakui tidak berada di setiap lokasi lubang.
Di sisi lain, kondisi di lapangan masih menuai keluhan warga. Sejumlah titik jalan yang telah dikupas disebut belum ditangani secara maksimal, bahkan ada yang dinilai membahayakan pengguna jalan, terutama pada malam hari karena minimnya penerangan dan rambu reflektif.
Beberapa warga juga menyebutkan adanya insiden pengendara, termasuk pelajar, yang terjatuh akibat kondisi jalan yang tidak rata dan berlubang.
Diketahui terdapat dua proyek yang tengah berjalan dengan total anggaran Rp27,1 miliar. Ruas Mantewe–Serongga dikerjakan PT Berkat Utama SKP senilai Rp7,9 miliar, sementara ruas Serongga–Kerang oleh PT Salsabila Oniresh Nusantara dengan nilai Rp19,2 miliar.
Selain kendala material, pekerjaan juga sempat terhambat masa cuti bersama hari besar keagamaan, yang membuat sejumlah pekerja lapangan tidak berada di lokasi.
Balai memastikan pekerjaan akan kembali dilanjutkan secara optimal mulai 20 April, sembari terus melakukan pemasangan rambu peringatan di titik rawan.
Pada Senin (13/4/2026), tim berkesempatan melintasi jalan nasional dari Cantung, Kotabaru hingga Mantewe. Di Cantung, sejumlah kupasan aspal terlihat tanpa rambu, terutama di pusat kota. Rambu perbaikan jalan baru tampak di depan Polsek Cantung, itu pun dalam ukuran kecil.
“Mulai sebelum lebaran dikupas, sampai sekarang belum diperbaiki. Anak-anak sekolah lewat sini setiap hari. Saya khawatir sekali,” kata Tamrin, warga setempat.
Dari Cantung ke Serongga, tampak beberapa ruas jalan mulai diberi garis penanda. Namun, kondisi berbeda terlihat saat memasuki perbatasan Kotabaru-Tanah Bumbu. Di perbatasan Tanah Bumbu-Banjar, tepatnya di Mantewe, penambalan aspal memang sudah dilakukan di sejumlah titik, di antaranya dekat Puskesmas Mantewe dan pasar harian Mantewe.
Namun di Mantewe, sejumlah rambu penanda pekerjaan jalan juga tampak rusak, diduga terlindas kendaraan berat. Tim di lapangan sempat membetulkan posisi rambu yang tergelat agar kembali dapat dilihat pengguna jalan.
“Sudah ada beberapa anak sekolah yang jatuh di sana,” kata Mama Chandra saat mengomentari ruas jalan Mantewe yang dilubangi namun belum ditambal.
Tambalan aspal di dekat pasar dan puskesmas itu pun terlihat tidak rata dan bergelombang. Warga yang menyaksikan pekerjaan tersebut mengatakan pengurukan aspal dilakukan secara manual.
Saat melintas di ruas jalan dari Kotabaru hingga perbatasan Tanah Bumbu, tim yang melintas juga tidak melihat satu pun plang proyek.(nw)
