NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan melalui operasi darat dan udara, sekaligus mempertegas penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran. Penguatan dilakukan menyusul peningkatan hotspot di sejumlah wilayah.
Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan hingga Rabu, 21 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 808 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence, meningkat 190 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencatat 618 hotspot.
Pada enam provinsi prioritas karhutla, jumlah hotspot meningkat dari 172 menjadi 446 titik. Kalimantan Tengah mencatat 198 titik, naik dari 84 titik; Sumatera Selatan 131 titik, naik dari 24 titik; Kalimantan Selatan 52 titik, tetap dibandingkan sehari sebelumnya; Kalimantan Barat 38 titik, naik dari 11 titik; dan Jambi 27 titik, naik dari 1 titik. Sementara Riau tetap nihil hotspot high confidence.
Perkembangan tersebut menunjukkan peningkatan paling menonjol terjadi di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Karena itu, patroli, groundcheck, pemadaman, pembasahan, serta pendinginan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi aktual di lapangan.
Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.
“Karena itu, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui pengecekan lapangan,” tulis Kemenhut dalam rilis resminya.
Di Kalimantan Tengah, yang mencatat hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, pemadaman dilakukan antara lain di Barito Selatan dan Pulang Pisau. Di Barito Selatan, petugas menghadapi kebakaran permukaan dan bawah pada lahan gambut yang belum sepenuhnya padam. Sementara di Pulang Pisau, operasi pemadaman masih dilanjutkan karena bara pada lahan bergambut masih membutuhkan penanganan.
Sementara di Kalimantan Selatan, pemadaman di sejumlah lokasi di Tanah Bumbu dan Kotabaru berhasil memadamkan api. Meski demikian, patroli dan kewaspadaan tetap dipertahankan karena provinsi tersebut masih mencatat 52 hotspot high confidence.
Operasi udara tetap berjalan beriringan dengan kerja personel darat. Manggala Agni bersama TNI, Polri, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, Masyarakat Peduli Api, relawan, dunia usaha, serta para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, penyisiran bara, mopping up, dan pendinginan.
Khusus pada lahan gambut, penanganan tidak dihentikan hanya karena nyala api di permukaan tidak lagi terlihat. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan sehingga pembasahan dan pendinginan tetap dilakukan untuk mencegah penyalaan kembali.
Di Kalsel sendiri,Gubernur KalselH Muhidin sampai sejauh ini terus bersinergi dengan berbagai pihak baik TNI, Polri, Perusahaan dan relawan swasta serta masyarakat.
“Untuk pemadaman karhutla di Kalimantan Selatan kami masih mengoptimalkan penggunaan Surfaktan yang dikembangkan Polda Kalsel,sebab Surfaktan kamianggap yang paling efektif memadamkan api di lahan gabut dengan metode siram dan suntuk,”terang H Muhidin saat kunjungan KSAD dan KepalaBNPB pekan lalu.
Bahkan untuk mengoptimalkan penggunaan Surfaktan, H Muhidin juga menggas pembuat embung mini di kawasan lahan ketahanan pangan milik Polda jalan Gubernus Syarkawi kabupaten Banjar.
“Embung mini yang dibangun nantinya dicampur Surfaktan dan helikopter akan mengambilair di situ untuk pemadaman dari udara,”tegasnya.(nw)
