NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan turut berdampak pada sektor pertanian. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan, tercatat sekitar 8.000 hektar lahan pertanian terdampak, dengan 2.000 hektar di antaranya mengalami kebakaran.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman, mengungkapkan dari luas lahan yang terbakar tersebut, sekitar 300 hektar di antaranya merupakan lahan yang sudah ditanami komoditas pangan.
“Dari 2.000 hektar yang terbakar, ada sekitar 300 hektar lahan yang sudah ada tanamannya dan ikut terbakar. Untuk petani yang terdampak, pemerintah akan memberikan bantuan berupa benih dan bibit agar mereka dapat menanam kembali,” ujar Syamsir.
Meskipun dilanda musibah karhutla dan ancaman kekeringan akibat kemarau, Syamsir memastikan pasokan pangan di Kalimantan Selatan masih dalam kondisi aman.
Bahkan ia juga menyatakan sesuai arahan dari Gubernur Kalsel menekankan agar produksi pangan, khususnya padi dan jagung, tidak boleh mengalami penurunan.
“Alhamdulillah sampai bulan September ini, produksi padi kita sudah mendekati angka 1.140.000 ton. Angka ini relatif stabil dan sama dengan capaian tahun-tahun sebelumnya. Kalaupun ada sedikit penurunan, itu lebih disebabkan oleh serangan hama butiran padi akibat kekeringan,” jelasnya.
Syamsir menjelaskan penurunan di beberapa titik juga berhasil ditutup oleh kawasan pertanian yang tidak terdampak kekeringan, seperti di wilayah Hulu Sungai Utara, di mana lahan kini justru bisa ditanami pada musim kemarau.
Guna mencegah meluasnya karhutla di sektor pertanian, DPKP Kalsel terus berkoordinasi dengan jajaran kepolisian, TNI (Babinsa), serta penyuluh pertanian dan POPT (Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan) untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Pemerintah Provinsi Kalsel bersama Kementerian Pertanian juga telah mengeluarkan surat edaran dan imbauan tegas kepada para petani agar tidak melakukan pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar,”tegasnya.
“Titik vital yang paling rawan terbakar adalah lahan gambut, seperti di kawasan Pengayuan, Liang Anggang, belakang Bandara, dan Lapangan Galuh. Area-area ini menjadi fokus mitigasi tahunan kami,” tambah Syamsir.
Syamsir tetap optimistis ketahanan dan produksi pangan Kalsel tetap terjaga hingga tahun 2027 mendatang.
“Kami masih sangat optimis dengan sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat stok pangan Kalsel masih aman hingga tahun depan,”pungkasnya.(nw)
