NEWSWAY.CO.ID, BALANGAN – Udara Sabtu pagi ,(08/11/2025), di Desa Bungin, Balangan, terasa renyah dan sejuk, menyambut matahari yang baru menanjak. Di tengah keheningan yang biasa menyelimuti komplek Pondok Pesantren Riyadhul Muhibbin, hari ini ada irama keceriaan yang berbeda. Suara riang para santri berpadu dengan cipratan air dari kolam-kolam bundar terpal yang kini telah berubah menjadi lumbung harapan.
Sebagai seorang penulis yang berdiri di tepi kolam, saya bisa merasakan getaran semangat yang luar biasa. Di depan mata, air kolam tampak coklat keruh, pertanda khas sistem budidaya bioflok, namun dari kedalaman air itu, munculah ikan-ikan nila yang gesit dan montok, memantulkan cahaya matahari di sisiknya.Pemandangan ini adalah puncak dari sebuah perjalanan panjang.
Saya bertemu dengan Ustad Rasyid, Ketua Badan Pengelola Usaha Pesantren (BPUP), yang matanya menyiratkan keharuan yang mendalam. Ia adalah arsitek dari mimpi kemandirian ini.
”Dulu, kami hanya akrab dengan kitab kuning dan pelajaran agama. Ikan,Kolam, Itu dunia yang asing, terasa mustahil,” kenang Ustad Rasyid, tersenyum sambil menyeka sedikit keringat di dahinya.
“Kami ingin santri punya bekal, tak hanya ilmu akhirat, tapi juga ilmu dunia. Tapi untuk memulai, kami tidak punya apa-apa selain niat,” keluhnya
Ia menceritakan masa-masa awal kebingungan itu. Mencari bibit, membeli pakan, dan yang paling sulit yakni memahami teknologi bioflok. Kolam terpal itu awalnya seperti labirin masalah.
“Saat kami panik melihat ikan-ikan mulai lemas karena kurang oksigen, rasanya semua impian akan tenggelam. Kami hampir menyerah,” ujarnya jujur.
Namun, di tengah kesulitan itu, sebuah uluran tangan datang dari tempat yang mungkin tidak pernah mereka duga: Balangan Coal. Melalui program CSR-nya, perusahaan tambang ini tidak hanya memberikan modal fisik, kolam, bibit, pakan, tapi yang jauh lebih berharga, adalah bimbingan teknis dan kehadiran.
“Kami merasa tidak sendirian. Mereka tidak hanya memberi, tapi mendampingi. Itu yang membuat kami kuat,” bisik Ustad Rasyid, matanya berkaca-kaca.
Saya mengamati santri-santri muda, yang baru kemarin mungkin hanya menghafal hadis, kini lihai memegang jaring dan menimbang ikan. Mereka bekerja dalam harmoni, tanpa canggung menghadapi lumpur dan bau amis.
Panen ini, yang menghasilkan 60 kg ikan nila segar dengan kualitas premium, bukanlah sekadar hitungan angka bagi pesantren. Ini adalah simbol keberhasilan sinergi yang nyata. Ini adalah bukti bahwa niat baik dapat menjembatani dua dunia yang berbeda: tradisi luhur pesantren dan inovasi korporasi modern.
Heriansyah Rusli, Section Head CSR Balangan Coal, yang berdiri tak jauh dari saya, tampak sama bangganya. “Ini adalah keberlanjutan. Kami yakin, dengan kerja sama yang solid, program ini akan menjadi motor penggerak ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar,” tegasnya.
Saat ikan-ikan nila seberat 4-6 ekor per kilogram itu ditimbang dan dimasukkan ke dalam keranjang, ada aroma optimisme yang tercium kuat. Ikan-ikan ini akan dijual, dan keuntungannya akan digunakan untuk membiayai kebutuhan pesantren dan mengembangkan program budidaya lebih lanjut.
Di tengah desa yang tenang ini, Pondok Pesantren Riyadhul Muhibbin telah membuktikan bahwa kemandirian bisa dipanen. Bukan dari ladang sawah atau kebun, melainkan dari kolam bundar berisi air keruh.
Panen hari ini adalah perayaan. Perayaan atas kegigihan Ustad Rasyid dan santri-santrinya, perayaan atas kepedulian Balangan Coal, dan perayaan atas harapan yang telah berhasil mereka ubah menjadi kenyataan yang lezat dan bergizi. Setelah melihat langsung proses ini, saya meninggalkan Bungin dengan keyakinan yakni di balik kolam-kolam bioflok ini, masa depan ekonomi berbasis pesantren sedang bersinar terang.(nw)
Reporter: M. Nasrullah
