Jateng Diguncang Keracunan MBG, Korban Capai 1.400 Orang dalam Sepekan

11 September 2026
SEjumlah korban diduga keracunan MBG di Jawa Tengah saat dirawat di rumah sakit. (Foto : istimewa/newsway.co.id)

NEWSWAY.CO.ID, JAWA TENGAH – Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali bermunculan di sejumlah wilayah Pantura Jawa Tengah.

Dalam rentang kurang dari sepekan, kejadian serupa dilaporkan terjadi di Blora, Rembang, Pati dan Jepara dengan jumlah korban jika diakumulasi telah menembus 1.400 orang.

Rangkaian kasus tersebut terjadi hampir beruntun, di Rembang, kasus terbesar terjadi di SMAN 1 Lasem dengan 752 siswa dan 25 guru atau total 777 orang mengalami gejala seperti diare, mual, muntah dan sakit perut setelah mengonsumsi MBG.

Kasus itu menjadi salah satu kejadian keracunan MBG terbesar yang dilaporkan dalam beberapa hari terakhir.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah mengakui keterbatasan tenaga sanitasi menjadi salah satu kendala utama dalam mengawasi keamanan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah, Heri Purnomo, menyebut tenaga sanitasi memegang peran krusial karena bertugas sebagai pengawas keamanan pangan di lapangan. Namun, jumlah petugas yang tersedia saat ini jauh dari memadai.

“Yang butuh sebenarnya tenaga sanitasi karena itu justru yang kunci. Karena petugas ini adalah tenaga pengawas keamanan pangan. Tapi sementara petugasnya kan sangat minim,” kata Heri saat ditemui di kantornya, Rabu (9/9/2026).

Belum reda kasus di Lasem, dugaan gangguan kesehatan kembali dilaporkan di MAN 2 Rembang, puluhan hingga ratusan siswa mengeluhkan gejala serupa setelah menyantap makanan MBG, dengan data korban yang masih diperbarui oleh pihak terkait.

Kasus kemudian muncul di Blora. Sebanyak 141 orang dilaporkan terdampak dugaan keracunan MBG di wilayah Tunjungan. Para korban mengalami sejumlah keluhan, antara lain diare, muntah, mual dan pusing. Sebagian korban bahkan harus mendapatkan perawatan medis.

Di Pati, sedikitnya 231 siswa dari MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan SPPG Gembong 1.

Sementara di Jepara, dugaan gangguan pencernaan dilaporkan terjadi di Kecamatan Mlonggo. Data sementara menyebut lebih dari 100 siswa dan guru mengalami keluhan setelah mengonsumsi MBG. Salah satu laporan mencatat 106 siswa dan guru terdampak, sementara laporan lain menyebut 118 siswa dan guru.

Rentetan kejadian tersebut membuat kasus MBG di Pantura Jawa Tengah kembali menjadi sorotan. Persoalannya bukan lagi satu kejadian terisolasi, melainkan muncul berulang dalam waktu berdekatan di sejumlah kabupaten.

Jika seluruh kasus di empat daerah tersebut digabung berdasarkan angka yang telah dilaporkan, jumlah korban telah berada di kisaran lebih dari 1.400 orang, bahkan dapat lebih tinggi karena data korban di sejumlah lokasi masih bergerak.

Rangkaian kasus itu juga menambah panjang daftar persoalan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG. Secara nasional, data Kementerian Kesehatan yang dikutip AP mencatat hingga 2 September 2026 terdapat 50.059 orang terdampak dalam 560 kejadian keracunan yang berkaitan dengan MBG di 245 kabupaten/kota pada 36 provinsi.

Pemerintah pun menghadapi tekanan untuk memastikan makanan yang dibagikan kepada siswa benar-benar aman dikonsumsi. Sebab, program yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak justru berulang kali diwarnai laporan siswa mengalami mual, muntah, diare dan sakit perut setelah menyantap makanan yang dibagikan.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah (Jateng), Siti Farida, menyoroti berulangnya kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di sejumlah daerah di Jateng setidaknya dalam dua bulan terakhir.

“Berulangnya kejadian ini perlu menjadi perhatian serius dalam penyelenggaraan program MBG. KPPG (Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi) yang ada di Jawa Tengah perlu memperketat pengawasan terhadap dapur SPPG, terutama terkait standar mutu penyajian makanan, SOP penerimaan dan pengolahan bahan baku, kebersihan dapur, kualitas air, serta batas waktu konsumsi makanan,” terang Farida, Rabu (9/9/2026).(nw)

Reporter : Suho

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog