NEWSWAY.CO.ID, BANJARBARU – Meski kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru akhir-akhir ini cukup signifikan namun Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat belum ada peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA hingga pekan ke-26 tahun 2026.
Meski begitu, Plt Kepala Dinas Kesehatan, dr Ani Rusmila mengimbau masyarakat agar kewaspadaan tetap ditingkatkan karena saat ini di Kota Banjarbaru terpantau ada 52 titik karhutla.
“Kalau terkait dengan kasus ISPA akibat karhutla memang kami sudah melakukan pemantauan per minggunya dari surveillance kita,” ujar Ani, Senin 30 Juni 2026 saat ditemui di kantornya.
Data ISPA Januari-Juni 2026 Turun
Ani menjelaskan, berdasarkan hasil analisa, jumlah kasus ISPA justru mengalami penurunan dibanding awal tahun.
“Kalau dari hasil analisa ini sampai ke minggu ke dua puluh enam memang belum ada kenaikan yang signifikan. Dibandingkan dengan kasus ISPA di Januari 2026 itu kan 4.405 kasusnya, namun di Juni masih 2.530,” jelasnya.
Hingga pertengahan Juli pun menurutnya angka tersebut belum melebihi kasus di bulan sebelumnya, penurunan ini dinilai wajar karena Banjarbaru baru memasuki awal musim kemarau.
“Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada September mendatang, meskipun mengalami penurunan dibanding awal tahun kami terus melakukan edukasi kepada masyarakay melalui puskesmas di Banjarbaru,” ucapnya.
Lakukan Upaya Preventif, Ini Imbauan Dinkes
Untuk mengantisipasi lonjakan kasus saat puncak kemarau, Dinkes Banjarbaru gencar melakukan upaya promotif dan preventif, pihaknya mengimbau masyarakat agar bijak dalam beraktivitas saat kualitas udara memburuk.
“Prinsipnya kita melakukan pencegahan dengan mengupayakan yang pertama mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kalau memang ternyata di luar berasap tentunya kita menahan diri dulu untuk tidak keluar rumah,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga diminta:
1. Memakai masker jika terpaksa beraktivitas di luar rumah
2. Menutup pintu dan jendela ketika asap cukup tebal
3. Memperbanyak minum air putih, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup dan jaga daya tahan tubuh
4. Tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah yang dapat memperburuk kualitas udara
Jika muncul gejala seperti batuk, sesak napas, demam, atau nyeri dada yang tidak membaik, warga diminta segera ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit.
Kelompok Rentan: Balita, Lansia dan Penderita Asma
Dinkes menyebut beberapa kelompok yang paling rentan terdampak kabut asap, yaitu balita, anak usia sekolah, lansia di atas 60 tahun, ibu hamil, penderita asma, penyakit jantung, penyakit paru lainnya, serta masyarakat yang bekerja di lapangan.
Hingga saat ini, Dinkes belum menerima laporan adanya peningkatan kasus ISPA secara khusus di satu wilayah puskesmas. Laporan dari seluruh puskesmas di Banjarbaru masuk setiap minggu dan langsung dianalisa.
“Kita berharap kabut asapnya jangan tambah tebal ya. Jadi berharapnya seperti itu dan kita masih bertahan dalam posisi sekarang,” pungkasnya.(nw)
