Hari Kebaya Nasional, Fathul Jannah Muhidin: Padukan dengan Wastra Sasirangan

by
24 Juli 2026
TEKS FOTO: Seminar bertema “Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia” di Hotel Rodhita Banjarmasin, Selasa (21/7/2026) pagi.(foto: adpim)

NEWSWAY.CO.ID, KALSEL – Peringatan Hari Kebaya Nasional tidak hanya menjadi momentum mengenakan busana tradisional, tetapi juga memperkuat komitmen dalam melestarikan kebaya sebagai identitas budaya bangsa.

“Kebaya bukan hanya warisan budaya, tetapi identitas perempuan Indonesia. Mari kita bangga mengenakannya dengan memadukan wastra sasirangan agar budaya tetap lestari sekaligus memberi manfaat bagi para pengrajin dan pelaku UMKM lokal,” ujar Ketua TP PKK Provinsi Kalsel, Hj. Fathul Jannah Muhidin.

Hal itu ia sampaikan dalam seminar bertema “Pesona Kebaya Indonesia untuk Dunia” di Hotel Rodhita Banjarmasin, Selasa (21/7/2026) pagi.

Kegiatan seminar sehubungan dengan Hari Kebaya Nasional ke-3 itu diselenggaraka Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kalsel bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA) Kalsel dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kalsel.

Dijelaskan Hj Fathul Jannah, tanggal 24 Juli ditetapkan sebagai Hari Kebaya Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023. Bahkan, di tingkat internasional, kebaya telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga, melestarikan, dan mewariskannya kepada generasi mendatang di tengah perkembangan zaman.

Seminar yang diikuti perwakilan dari 13 kabupaten/kota se-Kalsel ini menempatkan kebaya sebagai warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai historis dan sosial, tetapi juga berkontribusi terhadap penguatan ekonomi kreatif.

Berbagai materi disampaikan, mulai dari tren kebaya 2026–2027, pentingnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi kain sasirangan, hingga penguatan ekosistem UMKM yang menopang industri busana tradisional.

Peserta memperoleh wawasan mengenai perkembangan mode kebaya yang semakin adaptif terhadap kebutuhan generasi muda tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi, sehingga kebaya tetap relevan sebagai identitas budaya Indonesia di tengah perkembangan zaman.

Hj Fathul Jannah menilai, inovasi desain menjadi langkah penting agar kebaya tetap relevan dan diminati oleh berbagai kalangan, khususnya generasi muda, tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang menjadi jati dirinya.

“Pelestarian kebaya harus berjalan seiring dengan inovasi. Desain boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi nilai budaya dan karakter bangsa yang melekat pada kebaya tidak boleh hilang,” kata istri orang nomor satu di Kalsel ini

Ia menjelaskan, bahwa perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terhadap kain sasirangan menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keaslian karya para perajin. Menurutnya, perlindungan tersebut tidak hanya memberikan kepastian hukum, tetapi juga meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang semakin kompetitif.

“Ketika masyarakat memilih mengenakan kebaya dan sasirangan, sesungguhnya mereka ikut menggerakkan ekonomi kreatif daerah. Karena itu, pembinaan, promosi, dan perlindungan terhadap karya para pengrajin harus terus diperkuat,” tutupnya.

Seminar ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperkuat pelestarian kebaya sebagai identitas bangsa sekaligus meningkatkan daya saing produk unggulan Kalsel di tingkat nasional maupun internasional. (nw)

Tinggalkan Balasan

Latest from Blog